Painted Veil

Dalam sebuah adegan film Painted Veil, dr. Fane mengajak masuk Kitty ke dalam sebuah florist. Waktu Kitty mengamati bunga-bunga mawar dan menciumnya, dr. Fane bertanya pada Kitty dan terjadilah dialog berikut ini:

“Do you like flowers?”                                                                                                                   “Not particularly, no.” …. “Well, I mean, yes. But we don’t really have them around the house.” …. “Mother says, ‘Why purchase something you can grow for free?’. Then we don’t really grow them either.” … “Does seem silly really, to put all that effort into something that’s just going to die.”

Bagi Kitty, membeli mawar yang akan layu dan mati dalam seminggu adalah usaha yang sia-sia. Tapi kemudian dalam perjalanan hidupnya, ia menemukan bahwa memancarkan keindahan bagi sekeliling, meski hanya seminggu, adalah hal yang berharga.

Film ini indah, karena melihat realita cinta apa adanya. Cinta yang disakiti dan dikhianati. Film ini bernilai karena melihat cinta layak untuk diperjuangkan, meski kemudian hanya bisa dinikmati sesaat saja. Film ini berkesan, karena melihat hidup adalah kesempatan.

Pada akhirnya kehidupan dan cinta tidak bisa dinilai dari panjang atau pendeknya waktu yang tersedia untuk itu. Tapi dari penilaian kita akan layaknya untuk diperjuangkan. Kejatuhan tidak harus selalu membawa kepada kehilangan. Tapi kejatuhan bisa membawa pengharapan baru sekalipun samar dan terselubung.

Akhirnya, film ini menggugah nurani karena memberi ruang bagi pengampunan yang membuka aliran bagi pengharapan dan cinta yang baru, cinta yang lahir dari pengertian dan pengorbanan.

Dopamine

Kemarin di sebuah televisi, ditayangkan acara dari National Geography dengan topik ‘the most dangerous drug’. Obat yang dimaksud disingkat sebagai ‘Meth’, kepanjangannya saya tidak terlalu mengingatnya. Yang pasti obat ini diminum untuk merangsang otak mengeluarkan apa yang disebut sebagai ‘dopamine’. Apa itu dopamine? Berikut jawaban dari Yahoo:

Dopamine is a neurotransmitter that affects a wide variety of brain processes, many of which are involved in the control of movement ( like Parkinson’s), the formation of emotional responses (like symptoms of schizophrenia), and the perception of pain and pleasure (as in addiction). There is also some recent research that connects dopamine to ADHD.

Meth dikonsumsi supaya otak memproduksi lebih banyak (melebihi batas normal) dopamine karena akan memberikan efek pleasure alias menyenangkan. Akibatnya? Awal yang menyenangkan diakhiri penderitaan yang without mercy!

Pikir-pikir, kenapa manusia ingin sekali mendapatkan kesenangan ya? Bahkan sampai melakukan tindakan beresiko tinggi yang mengerikan! Karena memang kalau dipikir lagi, kita sangat menyukai kenikmatan. Kenikmatan adalah kebutuhan alami kita. Artinya, sang Pencipta memang memberikan pada kita naluri kenikmatan. Salah satu buktinya, ya dopamine itu tadi …  Tapi alasan yang paling kuat adalah jawaban dari pertanyaan pertama Westminster Shorter Catechism – Apa tujuan utama hidup manusia?. Jawabannya adalah memuliakan Allah selamanya dan menikmati Dia selamanya.

Jadi? Jadi memang kita secara naluriah adalah pencari kenikmatan. Salah? Tidak karena kita memang juga diciptakan untuk itu. Sekarang masalahnya tergantung pada apakah yang kita nikmati itu, kenikmatan asli atau palsu. Lho, memang kenikmatan bisa dipalsukan? Ya bisalah! Contohnya? Meth itu tadi.

Masalah kita yang terutama adalah seringkali puas dengan yang tiruan dan bahkan mengira itu asli. Yang lebih parah lagi kita tidak mengenali resiko kenikmatan palsu.

CS Lewis dalam bukunya Screwtape Letters mengatakan bahwa Tuhan itu sumber kenikmatan. Kenikmatan itu idenya Tuhan. Setan tahu fakta ini dan setan juga tahu fakta bahwa manusia punya naluri kenikmatan. So, apa yang dilakukan setan? Ya tawarkan kenikmatan tiruan, seperti Meth tadi.

Jadi, jadilah bijak dan arif seperti pemazmur yang tahu bahwa di tangan kananNya ada nikmat senantiasa, pleasure forever (Maz 16:11). So, let’s seek after the true enjoyment!

Soli Deo Gloria.

Food Court

Jalan-jalan di mall, end-up makan di food court.  So many choices, so many preferences. End up with confuses: mau makan apa? Makan memang basic needs, kalo tidak makan pasti mati. Tapi bagaimana jika makan tidak hanya menjadi basic needs tetapi menjadi secondary dan tertiary needs juga? Our whole life is filled up with ‘makan’.

Jika makan adalah basic needs what we need is nasi, sayur, lauk plus buah dan segelas air putih.

Tapi jika makan juga menjadi secondary needs what we need is more than basic. Kita butuh makanan pengantar dan makanan penutup. Kita butuh variasi makan dari nasi Padang, junk food Amerika sampai  makanan ‘sehat’ ala Jepang.

Ketika makan bahkan menjadi tertiary need what we need is ambience. Tidak lagi mau makan apa tapi juga makan di mana alias dalam suasana seperti apa.  Makan menjadi entertainment, karena makin hari kita makin haus hiburan. Makan menjadi sarana untuk melihat dan dilihat karena makan menjadi prestige dari gaya hidup urban.

Mak jang, kata orang Medan, mau makan saja jadi pusing! Memang, ketika makan menjadi ‘sophisticated’, hidup pun tambah runyam. Makin banyak pilihan makin bingung!

Lebih baik makan menjadi basic needs, berada di tempatnya semula. Cornelius Platinga Jr mengatakan, shalom alias damai sejahtera itu tiba jika segala sesuatu berada pada tempatnya yang telah ditentukan sang Pencipta.

Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat 4:4).

Lain kali jika anda berada di food court dan bingung mau makan apa, tinggalkan saja food court. Di luar sana, pasti banyak warung yang sediakan basic needs. Kebutuhan terpenuhi, kantong terselamatkan!

Puji Tuhan!

The Mall

Entah kenapa, sudah setahun terakhir ini, setiap kali pergi ke mall, yang terbentang dalam pikiran adalah: aku sedang memasuki sebuah hiperrealtas, sebuah dunia yang dihasilkan oleh simulasi. Benarkah apa yang saya rasakan ini atau hanya karena pengaruh kalimat-kalimat Jean Baudrillard?

Mall memang menyediakan sebuah realita yang melampui realita itu sendiri. Kehidupan di mall indah dan menyenangkan, wangi dan bersih. Orang-orang yang datangpun terlihat pintar dan bersih.

Jadi, benar dong Baudrillard? Gak sepenuhnya. Di dalam mall tetap saja saya menjumpai kenyataan bahwa kocek saya terlalu tipis untuk membeli sebuah mimpi. Food Court lebih ramai daripada restauran dan cafe bergengsi. Sebagian pengunjung terlihat mewanti-wanti anak mereka, jangan beli itu ini. So?

Simulasikah? Mimpikah? Silahkan pikir sendiri …

Hello world!

Welcome!

Ketertarikan akan budaya rasanya cukup menjadi alasan untuk membuat blog ini. Sebagai seorang yang percaya kepada keTuhanan Kristus dalam segala aspek kehidupan manusia, maka selayaknya seluruh pengamatan budaya yang saya coba tuliskan dalam blog ini didasarkan kepada sang Kebenaran itu sendiri.

Selamat menikmati! Soli Deo Gloria.